BLOG BASTRINDO BERBAGI INFORMASI SEPUTAR PENDIDIKAN MADRASAH

Rabu, 16 Oktober 2013

Hai Adam, Bapak semua manusia!!!

ASSALAMUALAIKUM WR.WB

SALAM BLOGGER!!!

Mulai posting lagi, pagi ini!
Sebelumnya saya ucapkan selamat idul Adha 1434H, Buat muslim seluruh indonesia!!! oya judul diatas saya ambil dari petikan film kisah nabi Ibrahim As, film ini banyak pembelajaran yang saya ambil!!!! dari segi pembenaran sebuah mimpi, menepati janji ketika bersumpah, patuh dan taat pada perintah Allah. sebuah keikhlasa, cinta kasih bapak kepada anak, anak kepada bapak dan keluarga kepada Allah.

“Kurban sejumlah itu bagiku belum apa-apa. Demi Allah! Seandainya aku memiliki anak lelaki, pasti akan aku sembelih karena Allah dan aku kurbankan kepada-Nya,” kata Nabi Ibrahim AS, sebagai ungkapan karena Sarah, istri Nabi Ibrahim belum juga mengandung.

Kemudian Sarah menyarankan Ibrahim agar menikahi Hajar, budaknya yang negro, yang diperoleh dari Mesir. Ketika berada di daerah Baitul Maqdis, beliau berdoa kepada Allah SWT agar dikaruniai seorang anak, dan doa beliau dikabulkan Allah SWT. Ada yang mengatakan saat itu usia Ibrahim mencapai 99 tahun. Dan karena demikian lamanya maka anak itu diberi nama Isma'il, artinya "Allah telah mendengar". Sebagai ungkapan kegembiraan karena akhirnya memiliki putra, seolah Ibrahim berseru: "Allah mendengar doaku".

Malam berikutnya lagi, beliau mimpi lagi dengan mimpi yang serupa. Maka, keesokan harinya, beliau bertekad untuk melaksanakan nazarnya (janjinya) itu. Karena itulah, hari itu disebut denga hari menyembelih kurban (yaumun nahr). Dalam riwayat lain dijelaskan, ketika Nabi Ibrahim AS bermimpi untuk yang pertama kalinya, maka beliau memilih domba-domba gemuk, sejumlah 100 ekor untuk disembelih sebagai kurban. Tiba-tiba api datang menyantapnya. Beliau mengira bahwa perintah dalam mimpi sudah terpenuhi. Untuk mimpi yang kedua kalinya, beliau memilih unta-unta gemuk sejumlah 100 ekor untuk disembelih sebagai kurban. Tiba-tiba api datang menyantapnya, dan beliau mengira perintah dalam mimpinya itu telah terpenuhi.


“Tajamkanlah pedang dan goreskan segera dileherku ini agar lebih mudah dan cepat proses mautnya. Lalu bawalah pulang bajuku dan serahkan kepada agar ibu agar menjadi kenangan baginya, serta sampaikan pula salamku kepadanya dengan berkata, ‘Wahai ibu! Bersabarlah dalam melaksanakan perintah Allah.’ Terakhir, janganlah ayah mengajak anak-anak lain ke rumah ibu sehingga ibu sehingga semakin menambah belasungkawa padaku, dan ketika ayah melihat anak lain yang sebaya denganku, janganlah dipandang seksama sehingga menimbulka rasa sedih di hati ayah,” sambung Isma'il.



Setelah mendengar pesan-pesan putranya itu, Nabi Ibrahim AS menjawab, “Sebaik-baik kawan dalam melaksanakan perintah Allah SWT adalah kau, wahai putraku tercinta!”



Kemudian Nabi Ibrahim as menggoreskan pedangnya sekuat tenaga ke bagian leher putranya yang telah diikat tangan dan kakinya, namun beliau tak mampu menggoresnya.



Ismail berkata, “Wahai ayahanda! Lepaskan tali pengikat tangan dan kakiku ini agar aku tidak dinilai terpaksa dalam menjalankan perintah-Nya. Goreskan lagi ke leherku agar para malaikat megetahui bahwa diriku taat kepada Allah SWT dalam menjalan perintah semata-mata karena-Nya.”



Nabi Ibrahim as melepaskan ikatan tangan dan kaki putranya, lalu beliau hadapkan wajah anaknya ke bumi dan langsung menggoreskan pedangnya ke leher putranya dengan sekuat tenaganya, namun beliau masih juga tak mampu melakukannya karena pedangnya selalu terpental. Tak puas dengan kemampuanya, beliau menghujamkan pedangnya kearah sebuah batu, dan batu itu pun terbelah menjadi dua bagian. “Hai pedang! Kau dapat membelah batu, tapi mengapa kau tak mampu menembus daging?” gerutu beliau.



Atas izin Allah SWT, pedang menjawab, “Hai Ibrahim! Kau menghendaki untuk menyembelih, sedangkan Allah penguasa semesta alam berfirman, ‘jangan disembelih’. Jika begitu, kenapa aku harus menentang perintah Allah?”



Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (bagimu). Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 106)



SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1434H!!!
MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN


Rabu, 25 September 2013

Kalender pendidikan MA





ULANGAN HARIAN BAHASA INDONESIA KELAS XII



ULANGAN HARIAN BAHASA INDONESIA KELAS XII
1.    Perhatikan ilustrasi praktik diskusi dengan topik “Kenakalan Remaja” berikut.
Putri    : Kenakalan remaja disebabkan orang tua mereka kurang memperhatikan anaknya.
Robi    : Sebagian pendapat Taning benar, tetapi yang lebih dominan adalah faktor motivasi.
                     Motivasi dalam diri mereka mengenai hidup dan masa depan.
Yuni  : Saya mendukung pendapat Labib, khususnya motivasi yang berasal tuntutan lingkungan dan motivasi dari dalam diri mereka yang positif.
Yati  :   Tentu perlu modal keterampilan dan materi untuk mendukung motivasi mereka. Bila tidak, kenakalan remaja tidak dapat dihindarkan.
Buatlah sebuah simpulan dari diskusi di atas!
2.     Sebutkan unsur-unsur penting dalam surat lamaran pekerjaan!
3.     Buatlah masing-masing satu paragraf yang berpola deduktif dan induktif!
4.     Apakah anda pernah melakukan pidato resmi di muka umum? Bagaimana menurut anda teknik melakukan pidato yang baik?

Analisis Karaktristik tokoh dan Amanat yang tersirat dalam sinapsis Novel dibawah ini!
5.              Sinapsis Novel ini menceritakan perjuangan seorang tenaga pendidik (guru) honorer dua lembaga pendidikan swasta di sebuah kampung jauh dari suasana perkotaan, tepatnya sekolah pedalaman Barumun, yakni Madrasah Aliyah Amaliah dan SMP Islam Nurrazzi, sekolah miskin dan ambruk, dia bernama Marfuddin Lubis, yang biasa disapa dengan pak Lubis. Pak lubis selain mengajar, juga menjadi kepala keluarga, memiliki dua orang anak, dan tidak mempunyai rumah, selain masih bergantung kepada mertuanya. Walaupaun demikian, dia adalah sosok panutan guru-guru, dicintai siswa-siswinya dari berbagai angkatan, maklum saja beliau telah mengabdi sepuluh tahunan lebih, namun semangat dan totalitasnya tidak pernah pudar di tengah guncangan hidup. Semangatnya itu terbukti dengan memenangi ‘Guru Tauladan’ di kecamatan Barumun. Dengan honerer seadanya, berkisar lima puluh ribu sampai dengan seratus ribu rupiah perbulan, dia tetap mengabdi di sekolah tersebut, baginya menjadi guru bukan sekedar tanggung jawab kerja, tapi panggilan jiwa dan bentuk pengabdian kepada Sang Khalik.
Lubis adalah sosok guru yang memiliki idealisme dan prinsif yang teguh, kuat dan mengakar dalam pribadinya. Menjadi guru PNS yang sebagian orang menebusnya dengan uang tidak akan pernah dilakukan Lubis. Menghidupi keluarganya cukup menjadi guru swasta dan kerja sampingan, serta terus berdoa kepada yang Allah. Kecintaan Lubis pada pengabdian di sekolah asal ditunjukkan dengan komitmentnya, dia dengan halus tidak menerima tawaran dari dr. Rosmaida Hararap pemilik sekolah yang berencana menginginkan sekolah baru berdirinya dikelola oleh pak Lubis. Sekolah milik dr. Rosmaida merupakan sekolah yang rencananya akan berstandar nasional bahkan internasional, dimana fasilitas mewah dan gedung yang besar, di samping itu para pengelola akan mendapat pemasukan finansial cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tentunya, pak Lubis memilki banyak pertimbangan, salah satu yang mendasar adalah karena sekolah asal masih membutuhkannya pengapdiannya, anak-anak SMP Islam Nurazizi dan MA Amaliyah masih mengharapkannya. Dalam pikiran pak Lubis, anak-anak desa ini harus didik, dikobarkan cita-cita dan mimpinya. Sekiranya dia meninggalkan sekolah asal, akan terlantarlah anak-anak tersebut.
Suatu ketika, Lubis terjatuh dengan benturan yang sangat keras di kakinya dalam perjalanan pulang, mengharuskan dr. Rosmaida menangani di tempat kliniknya. Beberapa hari berada di klinik dr. Rosmaida membuatnya lebih segar dan terasa sehat. Akhinya dengan permintaan keluarganya mengharuskan pulang. Di tengah kesakitannya, Lubis sempat pergi ke madrasah Amaliyah kembali menekuni tugasnya sebagai guru, bagai gayung bersambut, semua siswa dan guru-guru menyambut kehadirannya. Dengan wajah manis dan ceria murid, guru sekolah, memberikan warna lain pada hari itu.
Hidup memang sebuah perlawanan. Perlawanan melawan kondisi dan keadaan. Hari itu Aisyah istri pak Lubis meninggal. Suasana menjadikan lubis terebenam pada kemurungan dan kesedihan. Tak lama setelah kepergian istrinya, dia bangkit dari kesedihan dan menatap masa depannya, seorang sosok guru yang teguh. Sebuah prinsif yang sangat kuat dari pak Lubis, ketika dr. Rosmaida mencoba memeluk dan menciumnya saat berada di rumah pak Lubis, dengan keras mengharapakan perempuan itu keluar dari rumah. Berbagai rintangan yang dihadapi Lubis datagn silih berganti, mulai dari kematian istirnya, meninggalnya Ibu kandung, disusul lagi dengan penutupan SMP Islam Nurarazizi, meninggalnya kepala sekolah MA Amaliyah dan musibah lainnya terus menyertai Lubis. Tekadnya untuk terus berjuang saat seorang diri pada sekolah Amaliyah terus menggelora. Pada akhirnya, Tuhan pun mengabulkan semua mimpinya, dengan mengikuti lomba guru tauladan tingkat kabupaten. Kesempatan itu digunakan untuk menyampaikan kondisi dan derita sekolah yang selama ini dihadapi. Panitia memenangkan Lubis sebagai “Guru Tauladan” dengannya MA Amaliyah kembali dibangun dengan dukungan pemerintah daerah. Tuhan memenuhi janji hamba-Nya dengan mempertemukan Sufiatun mantan siswinya dulu, gadis cantik nan sholehah untuk mendampingi perjuangannya.

MENGUNGKAP TABIR RAHASIA MAN JADDA WAJADA

MENGUNGKAP TABIR RAHASIA MAN JADDA WAJADA


Man jadda wajada. Barang siapa yang bersungguh-sungguh maka akan mendapatakannya (Berhasil). Kata mutiara berbahasa Arab itu sangat akrab di telinga kita dan termuat dalam kitab Ta’lim Muta’alim karya Sekh Al-Jarnuji. Ta’lim Muta’alim adalah kitab yang menjelaskan tentang hubungan murid dan guru dalam menuntut ilmu, entah itu mengenai etika yang harus dilakukan para murid dalam belajar dan mencari ilmu atau tentang syarat-syarat yang harus dimiliki oleh murid dalam menuntut ilmu. Kitab ini sering dipelajari di pesantren. Baik yang salafi maupun modern. Pertanyaannya kemudian adalah, masih relevan atau tidakkah kata mutiara tersebut dengan konteks kekinian? Untuk menjawab hal tersebut, mari kita telisik lebih dalam kandungan isi dari kitab Ta’lim Muta’alim tersebut.
Pada pasal pertama, kitab ini menjelaskan tentang seorang murid yang tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan adanya 6 (enam) syarat yang harus dipenuhi. Syarat-syarat tersebut adalah; petama, memiliki kecerdasan. Kecerdasan ini tidak sebatas kecerdasan intelektual saja, tetapi masih memiliki pendukung yang lain yakni kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Seorang pelajar yang memiliki kecerdasan-kecerdasan tersebut tidak akan mengalami kesulitan di dalam menerima pelajaran dari gurunya. Kecerdasan intelektual berfungsi untuk mencerna pelajaran yang lebih menekankan pada fungsi akal pikiran. Kecerdasan emosional berperan pada aspek pendekatan yang digunakan dalam belajar. Entah yang berupa musyawarah dalam memecahkan suatu persoalan atau kedekatan hubungan secara personal seorang murid kepada gurunya. Misalkan dalam bab lain disebutkan, jarak seorang murid dengan gurunya tak lebih dari semeter jauhnya. Kecerdasan yang terakhir adalah kecerdasan spiritual,yakni, sebuah kecerdasan yang lebih menitikberatkan pada hubungan murid kepada sang pencipta. Kecerdasan spiritual sering diasah lewat riyadhoh dan tirakat melalui puasa sunnah senin-kamis dan do’a panjang yang mereka munajatkan pada waktu qiyamul lail. Salah seorang Ustadz sewaktu di Ma’had dulu juga menganjurkan untuk selalu menunaikan dua hal ini, karena merupakan alat ampuh bagi orang yang sedang menuntut ilmu, demikian juga pengalaman yang pernah penulis alami sewaktu masih di bangku sekolah dulu.
Kedua, gemar terhadap ilmu pengetahuan, dalam artian adanya keinginan untuk mengetahui semua ilmu. Hal ini merupakan sifat alamiah manusia yang ingin mengetahui segala hal yang ada. Jika semangat ingin tahu muncul dalam setiap diri murid, maka secara tidak langsung memotivasi mereka untuk terus selalu gemar belajar, baik dengan, membaca, diskusi atau musyawarah bertukar pendapat untuk memecahkaan suatu persoalan.
Syarat yang ketiga, seorang murid harus sungguh-sungguh (jihad) dalam menuntut ilmu. Kesungguhan seorang murid dalam menuntut ilmu tampak terlihat dari pengaturan waktu yang mereka lalui dalam 24 jam. Seorang murid yang memiliki kesungguhan hati dalam menuntut ilmu seyogyanya tidak menyia-nyiakan waktunya untuk melakukan pekerjaan yang tidak memiliki manfaat atau kurang bernilai untuk dirinya sendiri. Kesungguhan hati disini juga bermakna memiliki kesabaran atas segala ujian dan cobaan dari Allah SWT, baik yang berupa keadaan sakit atau dalam keadaan yang tidak mengenakkan lainnya yang dialami oleh si murid. Pepatah lawas mengatakan semakin tinggi suatu pohon, maka semakin kencang pula angin yang berhembus dan menginginkan ia jatuh.
Keempat, harus memiliki bekal. Bekal dalam konteks ini terbagi dalam dua hal, yakni bekal yang dalam arti fisik (harta benda) dan jelas dipandang mata. Bekal dalam bentuk fisik bagi murid yang sedang menuntut ilmu sangat dibutuhkan terutama dalam pemenuhan kebutuhan fisik. Seorang murid juga membutuhkan tunjangan vitamin, protein dan mineral yang cukup dalam menuntut ilmu. Dan bekal yang tak kasat mata (bathiniah), yakni kesiapan akal dan mental dalam menerima semua pelajaran yang diajarkan oleh sang guru. Bekal disini juga bisa diartikan adanya biaya untuk menuntut ilmu atau sekolah. Sudah sejak zaman sahabat nabi dulu, sebuah pengetahuan (ilmu) tentang apapun itu sangat bernilai dan mahal harganya. Kita tentu ingat, Sayidina Ali Bin Abi Tholib -ia kunci ilmu dan Nabi Muahmmad SAW adalah kotanya.. Imam Ali dengan ikhlas menjadi hamba sahaya seseorang yang telah mengajarkannya ilmu pengetahuan, meskipun hanya satu kata.
Kelima, adanya guru pembimbing. Peran guru pembimbing memiliki peran vital dalam kesuksesan seorang murid. Guru yang bijak akan mengarahkan murid-muridnya kepada jalan yang benar yang sesuai dengan muridnya. Artinya, segala keinginan murid diakomodir oleh guru dan dibimbing agar sesuai dengan aturan dan norma yang ada dan berlaku di masyarakat. Guru memiliki peran sebagai pengarah bakat dan skill bawaan sejak lahir yang dimiliki murid-muridnya.
Selain dari itu, tugas guru yang mulia adalah mengajar dan mendidik. Inilah yang sering dilupakan masyarakat sekarang. Di sekolah yang sering kita temui, guru hanya sebatas mengajarkan pelajaran-pelajaran sesuai dengan bidangnya masing-masing dan sering meninggalkan perannya sebagai pendidik yang justru sangat dibutuhkan oleh murid-muridnya. Disamping itu, kebiasaan guru yang baik adalah mendo’akan semua muridnya setiap ba’da shalat yang dia tunaikan. Karena do’a seorang guru memiliki peran yang cukup sentral untuk menghantarkan si murid meraih kesuksesan yang dicita-citakannya semenjak kecil.
Yang terakhir dari enam syarat tersebut adalah waktu yang lama (konsisten). Artinya, menuntut ilmu itu, ilmu apapun itu tak bisa dicapai dengan cara singkat semudah membalikkan telapak tangan. Orang mau pintar harus bahkan wajib untuk berproses yaknidengan jalan belajar yang membutuhkan waktu yang lama. Karena sebuah proses tak seperti ajang pencarian bakat yang serba instant dan cepat. Sering, kita jumpai di televisi ajang-ajang pencarian bakat yang secara instant menjadikan seseorang terkenal karena bakat yang dimilikinya. Namun, itu semua hanya sebatas kulit ari semata yang dipoles sedemikian rupa dan seapik mungkin, belum mencapai isinya yang menurut penulis lebih penting.
Akhirnya, setelah menilik syarat-syarat dalam menuntut ilmu di atas, sangat wajar bila banyak dari keluarga, teman, dan saudara kita yang berhasil dalam menuntut ilmu dan sukses di kemudian hari adalah mereka yang memenuhi dan menjalankan semua syarat tersebut. Yang artinya, apa yang ditulis oleh mushonif (pengarang kitab) dalam kitab kuning tersebut masih relevans dan memiliki kesesuaian dengan zaman modern.
Demikian yang dapat kami sampaikan, marilah kita selalu terus belajar hingga ajal menjemput. Karena orang yang terus mau belajar adalah orang yang mengerti ketidak-tahuan yang ada dalam dirinya, bukanlah orang yang enggan untuk belajar dan merasa pintar padahal pengetahuannya masih dangkal. Semoga bermanfaat. Amin. (*)