BLOG BASTRINDO BERBAGI INFORMASI SEPUTAR PENDIDIKAN MADRASAH

Rabu, 13 November 2013

Berikut Kumpulan Peribahasa Indonesia Terpopuler Beserta Artinya :



Wans Madridista
Berikut Kumpulan Peribahasa Indonesia Terpopuler Beserta Artinya :
Ø Air beriak tanda tak dalam = Orang yang banyak bicara biasanya tak banyak ilmunya.
Ø Air tenang menghanyutkan = Orang yang pendiam biasanya banyak ilmunya.
Ø Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga = Sifat-sifat anak biasanya menurun dari sifat orang tuanya. 
Ø Air susu dibalas air tuba = Kebaikan yang dibalas dengan kejahatan. 
Ø Ada harga ada rupa = Harga suatu barang tentu disesuaikan dengan keadaan barang tersebut.
Ø Ada pasang turun naik = Kehidupan di dunia ini tak ada yang abadi, semua senantiasa silih berganti.
Ø Ada uang abang disayang, Tak ada uang abang melayang = Hanya mau bersama saat senang tetapi tak mau tahu disaat sedang susah
Ø Ada padang ada belalang, Ada air ada pula ikan = Dimana pun berada pasti ada rezeki untuk kita.
Ø Bagai air di daun talas = Pendirian seseorang yang selalu berubah-ubah.
Ø Bagai mendapat durian runtuh = Mendapat suatu rezeki tanpa disangka-sangka sebelumnya.
Ø Bagaikan abu di atas tanggul = Orang yang berada dalam kedudukan sulit dan mudah jatuh. 
Ø Bagaikan burung dalam sangkar = Seseorang yang merasa hidupnya dikekang.
Ø Barangsiapa menggali lubang, Ia juga terperosok didalamnya = Bermaksud mencelakakan orang lain, tetapi dirinya juga ikut celaka.
Ø Berguru kepalang ajar, Bagai bunga kembang tak jadi = Menuntut ilmu hendaknya sepenuh hati dan tidak tanggung-tanggung agar mencapai hasil yang baik. 
Ø Bersatu kita teguh, Bercerai kita runtuh = Kuat kalau bersatu, lemah kalau berpecah belah.
Ø Berat sama dipikul, Ringan sama dijinjing = Susah ataupun sama dirasakan bersama-sama.
Ø Besar pasak daripaga tiang = Besar pengeluaran daripada pendapatan.
Ø Dimana kayu bengkok, Disana musang mengintai = Orang yang sedang lengah mudah dimanfaatkan oleh musuhnya.
Ø Dimana bumi dipijak, Disitu langit dijunjung = Dimana pun kita tinggal atau berada, maka adat-istiadatnya harus diikuti.
Ø Dibujuk ia menangis, Ditendang ia tertawa = Mau bekerja dengan baik bila sudah mendapat teguran.
Ø Ditindih yang berat, Dililit yang panjang = Kemalangan yang darang tanpa bisa dihindari.
Ø Enak makan dikunyah, Enak kata diperkatakan = Sesuatu hal haruslah dimusyawarahkan terlebih dahulu. 
Ø Harimau mati meninggalkan belang = Orang baik jika sudah tiada selalu dikenang jasa-jasanya. 
Ø Jauh dimata, Dekat dihati = Dua orang yang tetap merasa dekat meski tinggal berjauhan.
Ø Karena nilai setitik, Rusak susu sebelangga = Disebabkan kesalahan kecil maka mendapatkan kerugian yang sangat besar.
Ø Lain di bibir lain di hati = Perkataan yang tidak sesuai dengan kata hatinya, tidak jujur.
Ø Lempar batu sembunyi tangan = Seseorang yang melakukan sesuatu tetapi tidak mau bertanggung jawab.
Ø Malu bertanya sesat dijalan = Orang yang malu bertanya akhirnya tersesat dan terpuruk karena keputusannya.
Ø Maksud hati memeluk gunung, Apa daya tangan tak sampai = Cita-cita besar, tetapi tidak mampu untuk meraihnya.
Ø Masuk di telinga, Keluar di telinga kiri = Tidak menuruti nasihat yang diberikan.
Ø Membagi sama adil, Memotong sama panjang = Jika membagi ataupun memutuskan sesuatu harus adil dan tidak berat sebelah.
Ø Menang jadi arang, Kalah jadi abu = Kalah ataupun menang sama-sama menderita.
Ø Rajin pangkal pandai, Hemat pangkal kaya = Untuk mendapat kepandaian kita harus belajar, untuk mendapatkan kekayaan kita harus hemat.
Ø Sambil menyelam minum air = Melakukan beberapa pekerjaan sekaligus.
Ø Sakit sama mengaduh, Luka sama mengeluh = Seiya sekata dalam sebuah keadaan.
Ø Seberat-berat mata memandang, Berat juga bahu memikul = Seberat apapun penderitaan orang yang melihat, masih menderita orang yang mengalaminya.
Ø Seperti telur diujung tanduk = Berada pada posisi sulit dan serba salah.
Ø Seperti ilmu padi, kian berisi kian merunduk = Seseorang yang semakin pintar, biasanya semakin rendah hati.
Ø Sepandai-pandai tupai meloncat, Pasti akan jatuh juga = Sepandai-pandainya manusia pasti pernah melakukan kesalahan juga.
Ø Sekali merengkuh dayung, Dua tiga pulau terlampaui = Dengan sekali bersusah payah, dua tiga keinginan terlaksana.
Ø Tak ada gading yang tak retak = Tidak ada satu pekerjaan manusia yang hasilnya sempurna.
Ø Tak ada rotan akar pun jadi = Dapat memanfaatkan apa saja.
Ø Tong kosong nyaring bunyinya = Orang yang banyak bicara biasanya tidak berilmu.
Ø Tua-tua keladi, Makin tua makin menjadi = Orang tua yang bersikap seperti anak muda, terutama dalam masalah percintaan.

Rabu, 16 Oktober 2013

Hai Adam, Bapak semua manusia!!!

ASSALAMUALAIKUM WR.WB

SALAM BLOGGER!!!

Mulai posting lagi, pagi ini!
Sebelumnya saya ucapkan selamat idul Adha 1434H, Buat muslim seluruh indonesia!!! oya judul diatas saya ambil dari petikan film kisah nabi Ibrahim As, film ini banyak pembelajaran yang saya ambil!!!! dari segi pembenaran sebuah mimpi, menepati janji ketika bersumpah, patuh dan taat pada perintah Allah. sebuah keikhlasa, cinta kasih bapak kepada anak, anak kepada bapak dan keluarga kepada Allah.

“Kurban sejumlah itu bagiku belum apa-apa. Demi Allah! Seandainya aku memiliki anak lelaki, pasti akan aku sembelih karena Allah dan aku kurbankan kepada-Nya,” kata Nabi Ibrahim AS, sebagai ungkapan karena Sarah, istri Nabi Ibrahim belum juga mengandung.

Kemudian Sarah menyarankan Ibrahim agar menikahi Hajar, budaknya yang negro, yang diperoleh dari Mesir. Ketika berada di daerah Baitul Maqdis, beliau berdoa kepada Allah SWT agar dikaruniai seorang anak, dan doa beliau dikabulkan Allah SWT. Ada yang mengatakan saat itu usia Ibrahim mencapai 99 tahun. Dan karena demikian lamanya maka anak itu diberi nama Isma'il, artinya "Allah telah mendengar". Sebagai ungkapan kegembiraan karena akhirnya memiliki putra, seolah Ibrahim berseru: "Allah mendengar doaku".

Malam berikutnya lagi, beliau mimpi lagi dengan mimpi yang serupa. Maka, keesokan harinya, beliau bertekad untuk melaksanakan nazarnya (janjinya) itu. Karena itulah, hari itu disebut denga hari menyembelih kurban (yaumun nahr). Dalam riwayat lain dijelaskan, ketika Nabi Ibrahim AS bermimpi untuk yang pertama kalinya, maka beliau memilih domba-domba gemuk, sejumlah 100 ekor untuk disembelih sebagai kurban. Tiba-tiba api datang menyantapnya. Beliau mengira bahwa perintah dalam mimpi sudah terpenuhi. Untuk mimpi yang kedua kalinya, beliau memilih unta-unta gemuk sejumlah 100 ekor untuk disembelih sebagai kurban. Tiba-tiba api datang menyantapnya, dan beliau mengira perintah dalam mimpinya itu telah terpenuhi.


“Tajamkanlah pedang dan goreskan segera dileherku ini agar lebih mudah dan cepat proses mautnya. Lalu bawalah pulang bajuku dan serahkan kepada agar ibu agar menjadi kenangan baginya, serta sampaikan pula salamku kepadanya dengan berkata, ‘Wahai ibu! Bersabarlah dalam melaksanakan perintah Allah.’ Terakhir, janganlah ayah mengajak anak-anak lain ke rumah ibu sehingga ibu sehingga semakin menambah belasungkawa padaku, dan ketika ayah melihat anak lain yang sebaya denganku, janganlah dipandang seksama sehingga menimbulka rasa sedih di hati ayah,” sambung Isma'il.



Setelah mendengar pesan-pesan putranya itu, Nabi Ibrahim AS menjawab, “Sebaik-baik kawan dalam melaksanakan perintah Allah SWT adalah kau, wahai putraku tercinta!”



Kemudian Nabi Ibrahim as menggoreskan pedangnya sekuat tenaga ke bagian leher putranya yang telah diikat tangan dan kakinya, namun beliau tak mampu menggoresnya.



Ismail berkata, “Wahai ayahanda! Lepaskan tali pengikat tangan dan kakiku ini agar aku tidak dinilai terpaksa dalam menjalankan perintah-Nya. Goreskan lagi ke leherku agar para malaikat megetahui bahwa diriku taat kepada Allah SWT dalam menjalan perintah semata-mata karena-Nya.”



Nabi Ibrahim as melepaskan ikatan tangan dan kaki putranya, lalu beliau hadapkan wajah anaknya ke bumi dan langsung menggoreskan pedangnya ke leher putranya dengan sekuat tenaganya, namun beliau masih juga tak mampu melakukannya karena pedangnya selalu terpental. Tak puas dengan kemampuanya, beliau menghujamkan pedangnya kearah sebuah batu, dan batu itu pun terbelah menjadi dua bagian. “Hai pedang! Kau dapat membelah batu, tapi mengapa kau tak mampu menembus daging?” gerutu beliau.



Atas izin Allah SWT, pedang menjawab, “Hai Ibrahim! Kau menghendaki untuk menyembelih, sedangkan Allah penguasa semesta alam berfirman, ‘jangan disembelih’. Jika begitu, kenapa aku harus menentang perintah Allah?”



Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (bagimu). Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 106)



SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1434H!!!
MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN


Rabu, 25 September 2013

Kalender pendidikan MA





ULANGAN HARIAN BAHASA INDONESIA KELAS XII



ULANGAN HARIAN BAHASA INDONESIA KELAS XII
1.    Perhatikan ilustrasi praktik diskusi dengan topik “Kenakalan Remaja” berikut.
Putri    : Kenakalan remaja disebabkan orang tua mereka kurang memperhatikan anaknya.
Robi    : Sebagian pendapat Taning benar, tetapi yang lebih dominan adalah faktor motivasi.
                     Motivasi dalam diri mereka mengenai hidup dan masa depan.
Yuni  : Saya mendukung pendapat Labib, khususnya motivasi yang berasal tuntutan lingkungan dan motivasi dari dalam diri mereka yang positif.
Yati  :   Tentu perlu modal keterampilan dan materi untuk mendukung motivasi mereka. Bila tidak, kenakalan remaja tidak dapat dihindarkan.
Buatlah sebuah simpulan dari diskusi di atas!
2.     Sebutkan unsur-unsur penting dalam surat lamaran pekerjaan!
3.     Buatlah masing-masing satu paragraf yang berpola deduktif dan induktif!
4.     Apakah anda pernah melakukan pidato resmi di muka umum? Bagaimana menurut anda teknik melakukan pidato yang baik?

Analisis Karaktristik tokoh dan Amanat yang tersirat dalam sinapsis Novel dibawah ini!
5.              Sinapsis Novel ini menceritakan perjuangan seorang tenaga pendidik (guru) honorer dua lembaga pendidikan swasta di sebuah kampung jauh dari suasana perkotaan, tepatnya sekolah pedalaman Barumun, yakni Madrasah Aliyah Amaliah dan SMP Islam Nurrazzi, sekolah miskin dan ambruk, dia bernama Marfuddin Lubis, yang biasa disapa dengan pak Lubis. Pak lubis selain mengajar, juga menjadi kepala keluarga, memiliki dua orang anak, dan tidak mempunyai rumah, selain masih bergantung kepada mertuanya. Walaupaun demikian, dia adalah sosok panutan guru-guru, dicintai siswa-siswinya dari berbagai angkatan, maklum saja beliau telah mengabdi sepuluh tahunan lebih, namun semangat dan totalitasnya tidak pernah pudar di tengah guncangan hidup. Semangatnya itu terbukti dengan memenangi ‘Guru Tauladan’ di kecamatan Barumun. Dengan honerer seadanya, berkisar lima puluh ribu sampai dengan seratus ribu rupiah perbulan, dia tetap mengabdi di sekolah tersebut, baginya menjadi guru bukan sekedar tanggung jawab kerja, tapi panggilan jiwa dan bentuk pengabdian kepada Sang Khalik.
Lubis adalah sosok guru yang memiliki idealisme dan prinsif yang teguh, kuat dan mengakar dalam pribadinya. Menjadi guru PNS yang sebagian orang menebusnya dengan uang tidak akan pernah dilakukan Lubis. Menghidupi keluarganya cukup menjadi guru swasta dan kerja sampingan, serta terus berdoa kepada yang Allah. Kecintaan Lubis pada pengabdian di sekolah asal ditunjukkan dengan komitmentnya, dia dengan halus tidak menerima tawaran dari dr. Rosmaida Hararap pemilik sekolah yang berencana menginginkan sekolah baru berdirinya dikelola oleh pak Lubis. Sekolah milik dr. Rosmaida merupakan sekolah yang rencananya akan berstandar nasional bahkan internasional, dimana fasilitas mewah dan gedung yang besar, di samping itu para pengelola akan mendapat pemasukan finansial cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tentunya, pak Lubis memilki banyak pertimbangan, salah satu yang mendasar adalah karena sekolah asal masih membutuhkannya pengapdiannya, anak-anak SMP Islam Nurazizi dan MA Amaliyah masih mengharapkannya. Dalam pikiran pak Lubis, anak-anak desa ini harus didik, dikobarkan cita-cita dan mimpinya. Sekiranya dia meninggalkan sekolah asal, akan terlantarlah anak-anak tersebut.
Suatu ketika, Lubis terjatuh dengan benturan yang sangat keras di kakinya dalam perjalanan pulang, mengharuskan dr. Rosmaida menangani di tempat kliniknya. Beberapa hari berada di klinik dr. Rosmaida membuatnya lebih segar dan terasa sehat. Akhinya dengan permintaan keluarganya mengharuskan pulang. Di tengah kesakitannya, Lubis sempat pergi ke madrasah Amaliyah kembali menekuni tugasnya sebagai guru, bagai gayung bersambut, semua siswa dan guru-guru menyambut kehadirannya. Dengan wajah manis dan ceria murid, guru sekolah, memberikan warna lain pada hari itu.
Hidup memang sebuah perlawanan. Perlawanan melawan kondisi dan keadaan. Hari itu Aisyah istri pak Lubis meninggal. Suasana menjadikan lubis terebenam pada kemurungan dan kesedihan. Tak lama setelah kepergian istrinya, dia bangkit dari kesedihan dan menatap masa depannya, seorang sosok guru yang teguh. Sebuah prinsif yang sangat kuat dari pak Lubis, ketika dr. Rosmaida mencoba memeluk dan menciumnya saat berada di rumah pak Lubis, dengan keras mengharapakan perempuan itu keluar dari rumah. Berbagai rintangan yang dihadapi Lubis datagn silih berganti, mulai dari kematian istirnya, meninggalnya Ibu kandung, disusul lagi dengan penutupan SMP Islam Nurarazizi, meninggalnya kepala sekolah MA Amaliyah dan musibah lainnya terus menyertai Lubis. Tekadnya untuk terus berjuang saat seorang diri pada sekolah Amaliyah terus menggelora. Pada akhirnya, Tuhan pun mengabulkan semua mimpinya, dengan mengikuti lomba guru tauladan tingkat kabupaten. Kesempatan itu digunakan untuk menyampaikan kondisi dan derita sekolah yang selama ini dihadapi. Panitia memenangkan Lubis sebagai “Guru Tauladan” dengannya MA Amaliyah kembali dibangun dengan dukungan pemerintah daerah. Tuhan memenuhi janji hamba-Nya dengan mempertemukan Sufiatun mantan siswinya dulu, gadis cantik nan sholehah untuk mendampingi perjuangannya.